Jangan Normalisasi Hustle Culture, Ini Bahayanya!

0
Diunggah 05 October 2021

Malwa

Copy Writer
0
LikeLifestyle

Jangan Normalisasi Hustle Culture, Ini Bahayanya!

Hustle culture sekarang mulai dianggap normal bagi sebagian orang. Tapi apa sih sebenarnya bahaya hustle culture? Yuk, simak penjelasannya di sini!

Budaya hustle culture mungkin tak asing bagi kamu yang berada di lingkup pekerjaan. Hustle culture dikenal dengan gaya hidup seseorang yang mengutamakan segala aktivitasnya untuk bekerja secara terus menerus tanpa mengenal waktu. Orang seperti ini biasanya tidak menyadari ketika sedang berada dalam situasi gila kerja. Hustle culture sendiri sekarangdianggap wajar di kalangan masyarakat. Kebanyakan orang berpikiran bahwa semakin lama seseorang bekerja maka kesuksesan akan mudah untuk didapatkan. Padahal kultur seperti ini tidak boleh dinormalisasi karena akan menimbulkan bahaya yang dapat terlihat seperti berikut ini! Yuk, simak penjelasan singkat bahaya hustle culture.

1. Mengutamakan pekerjaan diatas segala hal

Dari banyaknya kegiatan yang bisa dilakukan sehari-hari, kamu lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaan. Sepulang kantor, kamu lebih memilih untuk mengerjakan hal yang berkaitan dengan pekerjaan dibandingkan beristirahat. Pada saat liburan kamu masih menghadap laptop dibandingkan menikmati pemandangan. Hustle culture menyebabkan seseorang tak lagi bisa membedakan kapan waktu yang tepat untuk bekerja dan tidak.

Mendedikasikan diri untuk pekerjaan merupakan sesuatu yang baik, tapi jangan dedikasikan seluruh hidup dan waktumu untuk bekerja tanpa melakukan kegiatan lainnya. Banyak kesempatan menanti yang mungkin akan kamu lewatkan ketika terlalu berfokus pada pekerjaan.

2. Membandingkan diri dengan orang lain

Bahaya dari hustle culture lainnya yakni lebih mudah untuk menyalahkan diri dan tidak pernah merasa puas atas pencapaian yang didapatkan. Kamu cenderung akan terus membandingkan pencapaianmu dengan orang lain. Padahal tak semua orang harus berada di langkah yang sama untuk mencapai kesuksesan. Berhenti membandingkan diri atas pencapaian yang didapatkan oleh orang lain. Tenang saja semua akan tetap berjalan dengan baik tanpa harus memforsir diri untuk mencapai titik sukses yang sama dengan orang lain.

Baca juga : MENGENAL PENYEBAB DEPRESI DAN DORONGAN UNTUK BUNUH DIRI

3. Tidak mempunyai waktu bersantai

Me time menjadi sebuah keharusan untuk dilakukan! Selain untuk melepas penat, kegiatan ini juga menjadi cara untuk mengistirahatkan badan dan pikiran. Jangan pakai waktu liburmu untuk berkutat dengan pekerjaan. Gunakan waktu luang yang kamu miliki dengan melakukan kegiatan yang kamu sukai seperti berkebun, naik gunung, membaca buku atau sekedar menonton film di rumah. Sempatkanlah untuk bersantai sejenak agar kehidupan serta pekerjaan berjalan seimbang.

4. Menjadikan kesuksesan menjadi patokan hidup

Budaya hustle culture memandang kesuksesan menjadi penentu keberhasilan dalam hidup. Padahal sukses bagi setiap orang akan berbeda. Jangan jadikan pekerjaan sebagai bentuk kesuksesanmu. Ketika gagal atau tidak berhasil dalam pekerjaan bukan berarti akan gagal di kegiatan lainnya. Buatlah kegagalan menjadi motivasi untuk melakukan kegiatan dengan lebih baik lagi di masa depan.

5. Lebih mudah sakit

Lupa makan dan jarang berolahraga menjadi salah satu ciri orang yang fanatik dalam bekerja. Orang yang terlalu workaholic biasanya kurang memperhatikan kesehatan pada dirinya baik secara fisik maupun secara mental. Hustle culture sering kali menyebabkan seseorang lebih mudah kelelahan, banyak pikiran, stress, dan banyak penyakit lainnya. Jangan lupa untuk tetap memikirkan kesehatan diri. Keluarlah sesekali untuk menghirup udara yang segar dengan berolahraga dan memanjakan lidah dengan makan-makanan yang bernutrisi baik.

Gimana, pasti tidak mau kan terjebak dalam situasi budaya yang gak wajar ini. Semoga kamu dapat terhindar dari bahaya hustle culture dan dapat menerapkan work-life balance dengan baik!

Last Updated on October 07, 2021

Ditulis Oleh

Malwa

Copy WriterDiunggah 05 October 2021

Beri Komentar

Komentar

Belum ada komentar.

Next Articles

Selengkapnya